Jepang, UNDP, dan KKP Dorong Penguatan Perikanan Skala Kecil di Morotai dengan Teknologi Hijau

5 Maret 2026
Group of people, some in lab coats, listening to a woman in a brown hijab at an outdoor booth.

Perwakilan Kedutaan Jepang, Kementerian Luar Negeri, UNDP dan Sekda Pulau Morotai dalam kunjungan bersama proyek seaBLUE di Morotai. Foto: Tias/UNDP

Morotai, 5 Maret 2026 – Pemerintah Jepang, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan United Nations Development Programme (UNDP) menutup kunjungan bersama ke Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, sebagai bentuk komitmen bersama untuk memperkuat penghidupan masyarakat pesisir sekaligus menjaga ekosistem laut Indonesia.

Kunjungan ini merupakan bagian dari proyek “Strengthening Livelihood of Small-Scale Fishers and Promoting Sustainable Local Economic Development through the Blue Economy (seaBLUE)”, yang didanai oleh Pemerintah Jepang dan diimplementasikan oleh UNDP dan KKP.

Inisiatif ini dijalankan di Morotai, di mana tingkat kemiskinan masih berada di angka 5,4% dan sebagian masyarakat masih menghadapi keterbatasan peluang ekonomi. Program ini menghadirkan solusi praktis terhadap perubahan iklim untuk meningkatkan pendapatan nelayan skala kecil sekaligus mendorong pertumbuhan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir dalam jangka panjang.

“SeaBLUE menunjukkan bagaimana kemitraan yang kuat dapat menciptakan perubahan nyata bagi masyarakat pesisir,” ujar Sara Ferrer Olivella, Kepala Perwakilan UNDP Indonesia. “Dengan bekerja langsung bersama masyarakat dan menghadirkan solusi teknologi sederhana seperti perahu penangkap ikan bertenaga surya dan kotak penyimpanan dingin, keluarga nelayan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang mahal, tetap memanen rumput laut, serta memperpanjang masa simpan hasil tangkapan mereka. Pada akhirnya, upaya ini membantu keluarga pesisir membangun masa depan yang lebih aman dan berkelanjutan dengan meningkatkan pendapatan sekaligus meminimalisasi dampak negatif terhadap alam, yang menjadi sumber penghidupan mereka.”

Kunjungan ini diikuti oleh Tri Tharyat, Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri; Yayan Hikmayani, Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan KKP; Sara Ferrer Olivella, Kepala Perwakilan UNDP Indonesia; serta Reiko Kamigaki, Konselor Ekonomi Kedutaan Jepang di Indonesia, bersama sejumlah perwakilan pemerintah pusat dan daerah. Mereka bertemu langsung dengan nelayan dan masyarakat pesisir di Pulau Galo-Galo untuk melihat secara langsung dampak program tersebut.

Indonesia memiliki sekitar dua juta nelayan skala kecil yang menyumbang hampir 60% produksi perikanan nasional dan berperan penting dalam ketahanan pangan serta perekonomian lokal. Di Morotai saja, lebih dari 4.000 nelayan skala kecil, pengolah ikan, dan pedagang ikan menggantungkan penghidupannya pada sumber daya laut. Namun, banyak di antara mereka masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk dampak perubahan iklim, keterbatasan infrastruktur, kurangnya fasilitas penyimpanan dingin yang memadai, serta meningkatnya biaya bahan bakar. Kondisi ini sering memaksa nelayan menjual hasil tangkapan dengan cepat pada harga yang lebih rendah atau berisiko mengalami kerusakan.

People gathered around a wall-mounted charging station labeled CHARGING STATION.

UNDP, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Perwakilan Kedutaan Jepang meninjau stasiun pengisian daya tenaga surya di Morotai. Foto: Tias/UNDP

Melalui seaBLUE, UNDP mendukung berbagai solusi praktis untuk meningkatkan pengelolaan perikanan serta memperkenalkan teknologi yang lebih bersih dan efisien. Salah satunya adalah pemasangan sistem penyimpanan dingin bertenaga surya di 17 lokasi di Morotai. Sistem ini membantu mengurangi kerusakan hasil tangkapan, menekan biaya operasional, dan meningkatkan kualitas ikan. Dengan demikian, setiap investasi sebesar Rp1 diperkirakan dapat menghasilkan sekitar Rp3 dalam nilai ekonomi, melalui peningkatan harga jual, pengurangan kerugian, serta penguatan penghidupan nelayan secara berkelanjutan.

Proyek ini juga memperkenalkan mesin perahu listrik bertenaga surya untuk membantu menekan biaya bahan bakar sekaligus mengurangi emisi, serta memperkuat tata kelola perikanan. Untuk meningkatkan pengakuan hukum dan akurasi data, sebanyak 230 kapal penangkap ikan telah diukur dan didaftarkan ke dalam Sistem Informasi Izin Kapal Daerah (SIMKADA). Langkah ini memberikan pengakuan resmi bagi nelayan skala kecil sekaligus membantu pengelolaan perikanan yang lebih efektif.

“Jepang berkomitmen untuk terus mendukung pembangunan berkelanjutan dan memperkuat ketahanan masyarakat pesisir di Indonesia,” ujar Reiko Kamigaki, Konselor Ekonomi Kedutaan Jepang di Indonesia. “Penguatan perikanan berkelanjutan sangat penting untuk memastikan ketahanan pangan, stabilitas ekonomi, serta kesehatan laut kita dalam jangka panjang.”

Hasil yang terlihat di Morotai menunjukkan bagaimana intervensi yang terarah pada sektor perikanan skala kecil dapat memperkuat ekonomi kelautan Indonesia, sekaligus meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Dengan menutup kesenjangan infrastruktur penting serta memperbaiki tata kelola perikanan, kemitraan ini memperkuat fondasi sektor kelautan yang lebih tangguh dan kompetitif.

“Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, masa depan pertumbuhan Indonesia sangat bergantung pada sektor pangan laut yang kuat dan berkelanjutan. Melalui proyek seaBLUE, KKP mendukung penuh upaya penguatan perikanan skala kecil melalui investasi pada pengembangan kapasitas SDM. Dukungan ini diwujudkan melalui pelatihan berkelanjutan dan layanan penyuluhan bagi masyarakat pesisir. Hingga saat ini, ratusan anggota masyarakat telah mengikuti pelatihan melalui proyek seaBLUE, dan para penyuluh perikanan kami siap untuk terus mendampingi kelompok masyarakat kelautan dan perikanan untuk memastikan penghidupan yang berkelanjutan, peningkatan produktivitas, serta ketahanan jangka panjang,” ujar Yayan Hikmayani, Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan KKP.

***

Kontak Media:

Nabilla Rahmani, Kepala Komunikasi UNDP Indonesia

nabilla.rahmani@undp.org