Indonesia Luncurkan Panduan Praktis tentang Asuransi Terumbu Karang untuk Memperkuat Ketahanan Ekonomi Pesisir Senilai Rp 9,5 triliun

8 Mei 2026
Vibrant coral reef underwater with colorful corals and small fish.

Jakarta, 7 May 2026 — Indonesia mengambil langkah inovatif untuk melindungi pesisir, masyarakat, dan ekonomi birunya dengan meluncurkan panduan baru tentang asuransi terumbu karang, solusi baru yang dapat membantu alam pulih lebih cepat dari guncangan iklim sekaligus melindungi kesejahteraan masyarakat.

United Nations Development Programme (UNDP), bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, hari ini meluncurkan Lessons Learned Report dan Practical Toolkit on Coral Reef Insurance di bawah proyek “Meningkatkan ketahanan terumbu karang dan masyarakat di Gili Matra”. Didukung oleh Ocean Risk and Resilience Action Alliance (ORRAA) melalui Blue Planet Fund Inggris, inisiatif ini menunjukkan bagaimana Indonesia memimpin upaya untuk menanamkan solusi pembiayaan baru ke dalam strategi ketahanan pesisir yang lebih luas untuk melindungi masyarakat dan planet bumi, sekaligus memperkuat ekonomi birunya.

Indonesia adalah rumah bagi sekitar 16% terumbu karang dunia, ekosistem yang menopang perikanan, pariwisata, dan pelindung alami pesisir. Namun, kenaikan suhu laut dan peningkatan tekanan manusia mempercepat pemutihan karang, yang membahayakan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat. Di Gili Matra, Lombok Utara, pariwisata berbasis terumbu karang saja menghasilkan lebih dari Rp 9,5 triliun setiap tahunnya.

Proyek “Meningkatkan ketahanan terumbu karang dan masyarakat di Gili Matra” mengeksplorasi bagaimana asuransi terumbu karang dapat membantu mengatasi kesenjangan pembiayaan yang kritis dengan memastikan ketersediaan dana yang cepat ketika terjadi guncangan iklim. Alih-alih mengasuransikan terumbu karang itu sendiri, pendekatan ini mencakup biaya tanggap darurat dan restorasi, memungkinkan tindakan yang lebih cepat ketika terjadi kerusakan.

Lessons Learned report mendokumentasikan pengalaman pertama Indonesia dalam mengembangkan model asuransi terumbu karang, yang mencakup penilaian risiko, keterlibatan pemangku kepentingan, dan pengaturan kelembagaan. Toolkit yang menyertainya menerjemahkan wawasan ini menjadi panduan pengambilan keputusan dan implementasi praktis bagi pemerintah dan praktisi yang mengeksplorasi pendekatan serupa.

Sebuah prototipe model asuransi parametrik telah dikembangkan menggunakan data satelit dari sistem NOAA Coral Reef Watch, platform pemantauan global yang melacak suhu permukaan laut dan tekanan panas pada terumbu karang secara hampir real-time. Menggunakan indikator seperti Degree Heating Weeks, model ini dirancang untuk memicu pembayaran ketika ambang batas suhu permukaan laut yang telah ditentukan tercapai, mendukung upaya respons dan pemulihan dini.

Indonesia juga telah memperkuat lingkungan pendukung melalui Peraturan Menteri No. 27/2024, yang mendukung pembiayaan kelautan berkelanjutan dan membuka jalur untuk pendanaan campuran, termasuk kontribusi publik, swasta, dan berbasis pariwisata, untuk pembayaran premi.

Ketika terumbu karang rusak, dampaknya meluas jauh melampaui lingkungan. Pariwisata dan perikanan terganggu, ketahanan pangan terpengaruh, dan pelindung alami pesisir melemah. Asuransi terumbu karang muncul sebagai mekanisme transfer risiko inovatif yang dapat membantu masyarakat merespons guncangan iklim dengan lebih cepat dengan memungkinkan pendanaan tepat waktu untuk respons darurat dan restorasi.
Meskipun modelnya telah dirancang dan diuji, langkah penting selanjutnya adalah mendapatkan pembiayaan berkelanjutan untuk pembayaran premi, memajukan proses regulasi, dan memperkuat pengaturan tata kelola. Kepemimpinan Indonesia dalam merintis inovasi ini menunjukkan bagaimana konservasi laut dapat dikaitkan dengan ketahanan finansial, menawarkan jalur praktis untuk melindungi keanekaragaman hayati sekaligus mendukung masyarakat dan ekonomi yang bergantung pada ekosistem laut yang sehat.

Seiring meningkatnya risiko iklim, asuransi terumbu karang menawarkan cara yang menjanjikan untuk mengurangi keterlambatan pendanaan, memperkuat ketahanan, dan mendukung pemulihan yang lebih cepat bagi ekosistem dan masyarakat, serta berkontribusi pada upaya yang lebih luas untuk berinvestasi di alam sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.

***
 

Tentang UNDP
UNDP adalah organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa terkemuka yang berjuang untuk mengakhiri kemiskinan, ketimpangan, dan perubahan iklim. Bekerja sama dengan jaringan luas para ahli dan mitra kami di 170 negara, kami membantu negara-negara untuk membangun solusi terintegrasi dan berkelanjutan bagi manusia dan planet ini. Pelajari lebih lanjut di undp.org atau ikuti di @UNDP.

Informasi Kontak: 
Nabilla Rahmani, Head of Communications, UNDP Indonesia
nabilla.rahmani@undp.org