Untuk Yaki dan Penghidupan yang Berkelanjutan

27 Januari 2026

Yunita dan Fonnie, pemandu lokal serta penjaga hutan perempuan di Taman Wisata Alam Batu Putih (TWA Batu Putih), Bitung, Sulawesi Utara.

UNDP Indonesia

Yunita masih mengingat awal dekade 2010-an, saat ia baru memulai perannya sebagai asisten peneliti yang mempelajari Yaki (Macaca nigra), monyet hitam berjambul endemik Sulawesi. Saat itu, ia tak pernah membayangkan bahwa pekerjaan tersebut akan membentuk lebih dari satu dekade hidupnya. Yang ia miliki hanyalah rasa ingin tahu, semangat belajar, dan kepedulian yang perlahan tumbuh terhadap spesies yang baru mulai ia kenal.

Tanpa sepeda motor dan dengan sumber daya yang sangat terbatas, Yunita lebih sering berjalan kaki, sesekali menumpang mikrolet yang melintasi Manado dan wilayah sekitarnya. Ia mengikuti arahan peneliti utama dari satu lokasi ke lokasi lain, membantu mengumpulkan data dan mendokumentasikan populasi Yaki di berbagai titik di Sulawesi Utara. Pekerjaan ini menuntut ketahanan fisik, namun bagi Yunita, setiap lelah terasa bermakna. Setiap perjumpaan dengan Yaki memunculkan pertanyaan baru—bukan hanya tentang spesies tersebut, tetapi juga tentang manusia yang hidup berdampingan dengannya.

Yunita looking at Yaki photos at her office, Selamatkan Yaki in Manado, North Sulawesi. Photo: UNDP Indonesia

Yaki adalah spesies endemik Sulawesi Utara, yang hanya ditemukan di bentang hutan dari Dumoga hingga Manado. Populasinya yang dahulu melimpah mengalami penurunan drastis, diperkirakan hingga 80 persen antara dekade 1980-an dan awal 2000-an. Hilangnya habitat memainkan peran besar, namun perburuan tak kalah menghancurkan. Selama beberapa generasi, daging Yaki dikonsumsi sebagai bagian dari praktik budaya lokal, khususnya di komunitas Minahasa. Kepercayaan turun-temurun menyebutkan bahwa mengonsumsi Yaki dapat meningkatkan vitalitas atau menyembuhkan penyakit seperti asma. Meski telah dibantah secara ilmiah sejak 2010-an, mitos-mitos ini terus bertahan, mendorong praktik yang mengancam kelangsungan hidup Yaki dan mempercepat penurunan populasinya.

Seiring waktu, semakin lama Yunita berada di lapangan, penelitian semata mulai terasa tidak memadai.

“Kami bisa mendokumentasikan penurunan populasi dan menerbitkan temuan,” kenangnya, “tetapi itu tidak akan menghentikan perburuan.”

Melalui keterlibatannya dalam gerakan Selamatkan Yaki—sebuah inisiatif yang berakar pada riset ilmiah namun digerakkan oleh keterlibatan masyarakat—Yunita semakin yakin bahwa konservasi tidak bisa berhenti pada pengumpulan data. Kesadaran harus tumbuh dari dalam komunitas. Perubahan harus dimiliki oleh mereka yang berbagi hutan dengan Yaki. Dan agar perubahan itu bertahan, upaya konservasi juga harus menjangkau para pengambil keputusan serta memengaruhi kebijakan.

Pada 2012, Selamatkan Yaki masih sangat kecil, hanya terdiri dari dua staf, termasuk Yunita. Sumber daya terbatas, tetapi gagasan melimpah. Mereka mulai mendatangi desa-desa bukan hanya untuk menyampaikan pesan perlindungan Yaki, tetapi juga untuk mendengarkan—memahami alasan orang berburu, alternatif apa yang memungkinkan, dan bagaimana konservasi dapat berjalan seiring dengan penghidupan. Percakapan-percakapan ini tidak mudah. Kesadaran tentang perlindungan satwa liar masih rendah, dan penolakan kerap ditemui. Yunita kerap menggambarkan masa itu sebagai “berlari menabrak tembok.”

Namun, perubahan-perubahan kecil mulai muncul.

Two chimpanzees sit on a log in a lush green forest.

Sekelompok Yaki di hutan Sulawesi Utara. Foto: Jesus Cobaleda/Shutterstock

Yaki bukan sekadar satwa yang dilindungi; ia adalah spesies kunci. Saat Yaki memakan buah-buahan hutan dan menyebarkan biji melalui proses alami, biji-biji tersebut dapat tumbuh hingga lima kali lebih cepat dibandingkan biji yang ditanam manusia. Tanpa Yaki, regenerasi hutan bisa melambat, keanekaragaman hayati menurun, dan ekosistem melemah. Melindungi Yaki berarti melindungi hutan itu sendiri.

Ketika kerja Selamatkan Yaki berkembang melampaui riset menuju pendidikan, penghidupan, dan advokasi, kemitraan-kemitraan baru pun terbentuk. Yunita mulai bekerja erat dengan para pelaku konservasi di Sulawesi Utara, termasuk Manado Conservation Center, dan kemudian dengan UNDP Indonesia. Kolaborasi ini menandai titik penting: upaya konservasi tidak lagi berdiri sebagai inisiatif terpisah, melainkan menjadi bagian dari pendekatan yang lebih luas dan terkoordinasi—menghubungkan komunitas, institusi, dan kerangka kebijakan.

Bagi Yunita, titik balik sesungguhnya bagi Selamatkan Yaki, dan konservasi Yaki secara lebih luas, terjadi saat pelaksanaan proyek Enhancing the Protected Area System (EPASS) di Sulawesi. Berlangsung dari 2017 hingga 2019, inisiatif yang dipimpin UNDP ini memperkuat kawasan lindung bukan hanya di atas kertas, tetapi juga di lapangan, dengan mengaitkan perlindungan keanekaragaman hayati dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Didanai oleh Global Environment Facility (GEF) dan diimplementasikan bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, EPASS membantu mentransformasi kawasan lindung menjadi ruang yang lebih terkelola, berkelanjutan, dan terhubung erat dengan masyarakat lokal—menciptakan momentum baru bagi upaya konservasi seperti Selamatkan Yaki.

Melalui EPASS, Selamatkan Yaki tumbuh dari tim akar rumput berskala kecil menjadi mitra konservasi yang diakui, membawa pengetahuan lokal untuk melengkapi dukungan institusional. Program ini membantu masyarakat memahami bahwa Yaki memainkan peran krusial dalam menjaga hutan tetap hidup dan sehat. Perlahan, perlindungan Yaki dipahami bukan semata soal menyelamatkan satu spesies, melainkan menjaga hutan yang menopang kehidupan mereka—air, pangan, dan mata pencaharian.

Perubahan pemahaman ini berujung pada capaian ekologis yang nyata. Antara 2016 dan 2019, tingkat okupansi lokasi peneluran burung maleo di tiga titik di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone meningkat tajam, dari 6,4 persen menjadi 54,4 persen, menandakan habitat yang semakin sehat dan aman. Di Cagar Alam Tangkoko Batuangus, pemantauan pada 2019 mencatat kepadatan populasi Yaki mencapai 14,6 individu per kilometer persegi. Pengesahan Rencana Strategis dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Yaki pada tahun yang sama semakin mengokohkan upaya konservasi dalam kerangka kebijakan formal.

Di tingkat tapak, masyarakat didukung melalui penghidupan berkelanjutan seperti hidroponik dan permakultur, sementara kelompok pemandu ekowisata lokal diperkuat. Investasi di bidang pendidikan—termasuk pendirian Tangkoko Education Center dan pemasangan papan informasi desa—membantu memperkuat pesan konservasi. Sejak proyek dimulai pada 2017, jumlah pemandu lokal terlatih hampir tiga kali lipat, dari 30 menjadi 84 orang, dan sebagian besar masih aktif hingga kini—sebuah bukti pembangunan kapasitas yang berkelanjutan, bukan partisipasi sesaat.

EPASS juga mendorong perubahan di tingkat pemerintahan. Isu konservasi yang sebelumnya berada di pinggiran mulai diakui sebagai prioritas, dengan dukungan yang lebih kuat untuk melindungi Yaki dan habitatnya.

Berangkat dari fondasi tersebut, Selamatkan Yaki kemudian menjadi salah satu mitra dalam proyek UNDP Combating Illegal Wildlife Trade (CIWT), yang didanai oleh Global Environment Facility (GEF) dan dilaksanakan pada 2023–2024 di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, kawasan lindung darat terbesar di Sulawesi. Berfokus pada pemberantasan perdagangan satwa liar ilegal, CIWT memperkuat penegakan hukum, menyediakan alternatif penghidupan berkelanjutan, serta melibatkan generasi muda sebagai duta konservasi, sambil mengintegrasikan inklusi gender di seluruh programnya.

Melalui EPASS dan CIWT, Selamatkan Yaki bertransformasi dari inisiatif berbasis riset menjadi organisasi multifaset yang menghubungkan sains, aksi komunitas, keterlibatan pemuda, dan advokasi kebijakan. Karya mereka menunjukkan bahwa ketika masyarakat memahami bahwa melindungi spesies seperti Yaki berarti melindungi hutan yang menjadi tumpuan hidup mereka, konservasi menjadi relevan, membumi, dan berkelanjutan.

Yunita kerap mengajak keluarganya, termasuk putranya Ethan, ke Taman Wisata Alam Batu Putih, tempat pembelajaran tentang Yaki menjadi tradisi keluarga. Foto: UNDP Indonesia

Sambil berjalan menyusuri hutan Taman Wisata Batu Putih, Yunita mengingat perjalanan awalnya dalam konservasi Yaki—berjalan di bawah terik matahari, menumpang mikrolet sambil menggenggam catatan penelitian—dengan gerakan konservasi yang kemudian tumbuh.

“Apa yang bermula dari rasa ingin tahu bagi saya telah berubah menjadi tanggung jawab,” ujarnya, “dan tanggung jawab itulah yang menjelma menjadi aksi berdampak.”

Bagi Yunita, menyelamatkan Yaki bukan hanya soal melindungi satu spesies, tetapi juga membentuk cara komunitas berelasi dengan lingkungannya, serta memastikan konservasi menjangkau dari desa hingga kebijakan. Bekerja bersama UNDP melalui EPASS dan CIWT, serta berkolaborasi dengan Manado Conservation Center, menunjukkan bagaimana aksi akar rumput dan dukungan institusional dapat saling memperkuat dampak.

Namun, Yunita menyadari bahwa tugas ini belum selesai. “Konservasi tidak bisa berhenti pada satu proyek atau satu kawasan,” refleksinya. “Kita harus terus membangun kemitraan, memberdayakan komunitas dan generasi muda, serta menciptakan sistem yang memungkinkan hutan dan satwa liar bertahan dan tumbuh bagi generasi mendatang.”