Bagaimana Tata Kelola Kesehatan Digital Memberi Kesempatan Hidup bagi Seorang Remaja di Balik Jeruji Besi
4 Maret 2026
Sel itu sunyi ketika mereka memberitahunya. Berusia delapan belas tahun, kehilangan kebebasannya, dan kini didiagnosa penyakit yang akan menjadi beban seumur hidup: Toni mengidap HIV.
Ia menjadi orang pertama yang hidup dengan HIV yang masuk ke Lembaga Pemasyarakatan Anak di Aceh Besar, sebuah status yang tidak mendatangkan rasa bangga, tetapi rasa takut yang membebani. Sebagai seorang remaja yang telah terpisah dari keluarga dan masyarakat, diagnosisnya menempatkannya dalam posisi kerentanan ganda: muda, dipenjara, dan kini hidup dengan kondisi yang distigmatisasi yang masih banyak disalahpahami.
Ia menarik diri. Rasa percaya dirinya mulai pudar. Dalam sel sempit, dunia Toni menjadi semakin kecil tiap harinya.
Pengobatan Tanpa Jarak
Dua tenaga kesehatan ditugaskan untuk mendampinginya. Eva Afrida, seorang perawat dan petugas HIV dari Puskesmas Ingin Jaya yang berdekatan, dan Dr. Herdianti, yang dikenal sebagai Anti, yang memberikan perawatan harian kepada penghuni fasilitas tersebut. Mereka hadir dengan tulus.
Mereka duduk di sampingnya. Mereka mendengarkan. Mereka memeriksa ruam yang muncul di kulitnya saat tubuhnya menyesuaikan diri dengan pengobatan baru, dan mereka berbicara kepadanya bukan sebagai pasien yang harus ditangani, tetapi sebagai seorang anak muda yang mencoba menemukan pijakannya.
“Itu efek samping dari obatnya. Terkadang ada sensasi terbakar, tetapi cobalah untuk tidak menggaruknya,” kata Dr. Anti kepadanya suatu sore. “Kita akan mengoleskan salep agar tidak menyebabkan luka.”
Perlahan, Toni mulai kembali seperti semula. Berat badannya, yang sangat rendah ketika ia pertama kali tiba, mulai naik kembali. Dan begitu pula sesuatu yang lebih sulit diukur: perasaan tenang bahwa hidupnya masih memiliki tujuan.
“Dia sangat kurus ketika pertama kali tiba,” kata Eva sambil tersenyum. “Sekarang dia jauh lebih baik.”
Pengobatan HIV bukanlah sesuatu yang dapat dihentikan dan dimulai kembali. Obat antiretroviral yang dikenal sebagai ARV yang diminum Toni setiap hari hanya berfungsi jika diminum secara konsisten, tepat waktu, tanpa jeda. Bagi seseorang di luar tahanan, melewatkan pengobatan mungkin tinggal pergi ke apotek. Bagi Toni, tidak ada alternatif lain. Dia sepenuhnya tergantung pada sistem kesehatan fasilitas tersebut untuk memastikan obatnya tersedia saat dia membutuhkannya.
Sebelum tahun 2025, hal itu tidak selalu terjamin. Persediaan obat tiba secara tidak konsisten, dan pemesanan obat berjalan lambat melalui proses administrasi manual. Eva pernah berada dalam posisi yang menyakitkan karena harus meminta pasien untuk kembali di hari lain, pasien yang harus mendapatkan pengobatan segera.
“Sulit untuk mengatakan kepada pasien, ‘Kembali besok,’” katanya pelan, “ketika mereka sangat tergantung pada obat.”
Kemudian keadaan berubah.
Pada awal tahun 2025, sebuah perangkat digital baru bernama SMILE (Sistem Monitoring Inventaris Logistik Kesehatan Secara Elektronik) diperkenalkan di seluruh fasilitas kesehatan di Aceh. Dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia bersama dengan UNDP Indonesia, dan didanai oleh GAVI dan Global Fund, SMILE memungkinkan tenaga kesehatan untuk memantau persediaan obat secara real-time dan mengirimkan permintaan obat segera ketika persediaan menipis. Tidak ada lagi tumpukan dokumen. Tidak ada lagi ketidakpastian.
“Dengan SMILE, saya hanya perlu memeriksa aplikasinya,” kata Eva. “Jika stok menipis, saya langsung mengajukan permintaan ke Gudang Farmasi Kabupaten. Tidak ada lagi pasien yang menunggu obat mereka.”
Pekerjaan UNDP dengan SMILE mencerminkan keyakinan yang telah lama dipegang: kebijakan kesehatan yang baik hanya penting jika didukung oleh sistem yang bekerja untuk masyarakat. Pada Desember 2025, platform ini telah melacak pengiriman 191 juta obat ARV, 72 juta obat TB, 23,5 juta obat antimalaria, dan 41 juta alat tes di seluruh Indonesia, yang didukung oleh pendanaan dari Gavi dan Global Fund.
Di balik angka-angka ini terdapat keluarga yang menerima perawatan tepat waktu, tenaga kesehatan yang dapat melakukan pekerjaan mereka dengan lebih efektif, dan masyarakat yang lebih terlindungi. SMILE menunjukkan contoh pembangunan manusia yang inklusif, dengan memastikan obat-obatan dan layanan penting menjangkau setiap orang yang membutuhkannya, di mana pun mereka tinggal.
Masa Depan dalam Jangkauan
Toni mengalami perubahan tersebut di mana obatnya selalu datang tepat waktu, setiap hari, tanpa gangguan.
“Sebagai penghuni lembaga pemasyarakatan, saya pikir mustahil untuk menerima perawatan yang layak,” katanya, mengenang minggu-minggu gelap pertama setelah diagnosisnya. Dia salah, dan kesadaran itu telah membuat perbedaan besar. “Obat HIV yang saya butuhkan selalu tersedia dan tepat waktu,” katanya. “Jadi pengobatan saya tidak pernah terganggu.”
Bagi staf di fasilitas tersebut, Toni tidak lagi ditentukan oleh diagnosisnya. Dia adalah seorang pemuda dengan mada depan, menjalani hidupnya hari demi hari.
Eva berharap apa yang bermanfaat untuk Toni dapat bermanfaat untuk lebih banyak orang lagi. “Semoga, dengan bantuan teknologi ini, obat-obatan dan tes HIV dapat menjangkau orang-orang yang berisiko dan dapat diakses secara berkelanjutan di semua fasilitas kesehatan,” katanya. “Karena setiap orang di negara ini, tanpa terkecuali, memiliki hak yang sama untuk hidup sehat.”
Di balik tembok lapas di Aceh Besar, akses terhadap obat-obatan bukan hanya soal logistik. Bagi Toni, ini adalah kesempatan untuk terus maju dan bertahan hidup, hari demi hari.
***
Catatan: Toni adalah nama samaran yang digunakan untuk menjaga privasi.
Penulis: Noor Aspasia, Slam Riyadi, and Vidia Darmawi
Editor: Nabilla Rahmani