Ketika Bank Sampah Beralih ke Digital, Plastik Tak Lagi Berakhir di Laut

27 Januari 2026
Volunteers in blue shirts share water bottles in a warehouse with sacks in the background.

Ari memulai harinya dengan menavigasi jalanan Jakarta, mengumpulkan sampah daur ulang dari rumah tangga dan usaha kecil. Ia adalah seorang pemulung yang hidup dengan disabilitas penglihatan. Dalam sebuah sistem yang kerap mengabaikan pekerja informal sekaligus penyandang disabilitas, kerja Ari nyaris tak kasatmata. Namun tanpa kehadiran orang-orang seperti Ari, sistem daur ulang Indonesia akan jauh lebih rapuh dan tidak seefektif saat ini.

Perjalanan daur ulang Indonesia tidak bermula di tempat pembuangan akhir atau fasilitas pengolahan. Melainkan berawal di lingkungan permukiman dan gang-gang sempit, melalui sektor informal. Pemulung dan pengelola bank sampah membentuk tulang punggung rantai daur ulang nasional, mengumpulkan hingga lebih dari 80 persen material daur ulang di sejumlah kota. Setiap botol yang dipilah, setiap kilogram yang ditimbang, merupakan intervensi kecil yang mencegah plastik mengalir ke sungai dan, pada akhirnya, menuju laut. Ketika dilipatgandakan di tingkat komunitas, tindakan-tindakan keseharian ini membuktikan bahwa kemajuan dapat dibangun tanpa mendorong ekosistem melampaui batas daya dukungnya.


Dari Kerja yang Tak Terlihat ke Dampak yang Terukur 

Indonesia diperkirakan menghasilkan 30–35 juta ton sampah pada 2024, dengan lebih dari 60 persen di antaranya tidak terkelola. Sebagian besar berakhir di badan air dan kawasan pesisir, mengancam ekosistem, ketahanan pangan, serta mata pencaharian masyarakat pesisir. Tantangan ini tidak hanya bersifat lingkungan, tetapi juga bersifat kemanusiaan yang mendalam.

Di sinilah visi UNDP tentang pembangunan yang menghormati batas-batas alam beralih dari gagasan menjadi kenyataan: mendorong kesejahteraan manusia tanpa menggerus sistem alam yang menjadi tumpuan kehidupan.

Salah satu respons paling khas Indonesia adalah sistem bank sampah, di mana komunitas memilah material daur ulang dan mengonversinya menjadi tabungan. Bank sampah membuka peluang ekonomi, khususnya bagi perempuan dan pekerja informal, sekaligus menjaga plastik tetap berada di luar alam. Namun, banyak bank sampah masih bergantung pada pembukuan manual dan pencatatan yang terfragmentasi, sehingga membatasi kapasitas mereka untuk bertumbuh dan membuktikan dampak secara meyakinkan.

Duitin, sebuah rintisan pengelolaan sampah digital sekaligus pemenang ASEAN Blue Innovation Challenge (ABIC), memandang kesenjangan ini sebagai peluang.

“Kami tidak sekadar mendigitalkan pencatatan,” ujar Alena, salah satu pendiri Duitin. “Tujuan kami adalah membantu bank sampah mengelola sampah secara lebih transparan dan berkelanjutan dalam jangka panjang.”

Melalui platform digitalnya, Tradisi, Duitin mentransformasikan praktik daur ulang sehari-hari menjadi data real-time yang dapat ditelusuri, mencatat setoran sampah, transaksi, hingga rute pengumpulan. Aktivitas yang sebelumnya informal dan nyaris tak terlihat kini menjadi terukur, tepercaya, dan layak didukung investasi.

Didukung oleh UNDP dan didanai oleh Pemerintah Jepang, ABIC memungkinkan inovator seperti Duitin untuk menguji, menyempurnakan, dan memperluas solusi yang mencegah kebocoran plastik ke laut. Melalui kemitraan ini, Duitin bekerja dengan tujuh bank sampah di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, dengan prioritas wilayah pesisir yang memiliki risiko pencemaran laut paling tinggi. Perangkat digital, pelatihan, dan pendampingan membantu bank sampah bertransisi dari sistem berbasis kertas menuju operasional digital yang terintegrasi.

Hingga Maret 2025, Tradisi telah mencatat pengelolaan 33,58 ton sampah daur ulang, hampir 1.000 transaksi setoran sampah, serta 284 pengguna terdaftar—lebih dari 75 persen diantaranya perempuan. Digitalisasi menekan beban administratif dan memungkinkan pengelola bank sampah memusatkan perhatian pada sosialisasi, edukasi, dan pelibatan masyarakat, memastikan bahwa kemajuan lingkungan juga menghasilkan nilai sosial yang nyata.


Inklusi, Inovasi, dan Masa Depan Laut yang Dibagi Bersama 

Melalui pendekatan yang diterapkan Duitin, Ari tidak didefinisikan oleh disabilitasnya, melainkan oleh kontribusinya. Ia mengumpulkan sampah, mencatat transaksi, dan mendistribusikan material daur ulang ke berbagai wilayah di Jakarta dan sekitarnya.

“Saya sempat khawatir orang akan melihat disabilitas saya sebelum kemampuan saya,” tutur Ari. “Namun di sini, saya dipercaya memikul tanggung jawab. Itu menunjukkan bahwa saya dapat berkontribusi seperti siapa pun.”

Kisah Ari merefleksikan komitmen inti UNDP: manusia harus ditempatkan sebagai pusat pembangunan berkelanjutan. Ketika inovasi merangkul pekerja informal dan penyandang disabilitas, sistem menjadi lebih tangguh, lebih setara, dan lebih efektif.

Perjalanan Duitin melalui ASEAN Blue Innovation Challenge (ABIC) menunjukkan bagaimana inovasi yang inklusif dan berakar pada komunitas mampu melindungi ekosistem laut sekaligus memperkuat penghidupan. Inilah praktik nyata pembangunan dalam batas-batas planet: sampah dijaga agar tidak berakhir di laut, komunitas diberdayakan, dan kemajuan diukur bukan semata melalui angka, melainkan melalui martabat dan kesempatan.
 

***

Ditulis oleh: Anastasia Weningtias, Communication Associate UNDP Indonesia

Diedit oleh: Nabilla Rahmani, Head of Communication UNDP Indonesia