Pohon yang Ia Pertahankan: Memulihkan Mata Pencaharian dan Keanekaragaman Hayati di Sulawesi Tengah

26 Juni 2026
Person in blue holds two large orange cacao pods on a cocoa tree.

Femmi, seorang petani kakao perempuan dari Desa Tuva, memanen buah kakao dari lahannya sendiri.

Foto: UNDP Indonesia

Di pinggir Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah, keputusan seorang petani untuk mempertahankan pohon-pohon kakaonya urut membantu memulihkan penghidupan, melindungi keanekaragaman hayati, dan membangun ketahanan di tengah perubahan  iklim dan guncangan ekonomi. 

Di Desa Tuva, Femmi menghabiskan paginya dengan  menyusuri barisan pohon kakao yang dulu dirawat oleh orang tuanya. Bersama kakak perempuannya, ia kini mengelola sekitar tiga hektar lahan keluarga di mana ia memeriksa buah yang mulai matang, melihat kembali cabang-cabang yang telah dipangkas beberapa minggu sebelumnya, dan merawat pohon-pohon baru yang perlahan ia tanam ulang. Pekerjaan itu terasa akrab. Namun, dulu tidak selalu demikian. 

Sebagai anak bungsu, Femmi tetap tinggal bersama orang tuanya ketika kakak perempuannya mulai membangun keluarga. Selama bertahun-tahun, perannya di keluarga terbatas. Seperti banyak perempuan muda di wilayah pedesaan, ia membantu mengumpulkan hasil panen, menjemur biji kakao di bawah matahari, atau sesekali mengendarai motor selama dua jam ke kota untuk menjual hasil kebun. Pekerjaan di lahan—menanam, memangkas, dan merawat pohon kakao setiap hari—dilakukan oleh orang tuanya.

Ketika Tanah Berguncang

Semuanya berubah pada 2018, ketika gempa Donggala mengguncang Sulawesi Tengah. Gempa tersebut memicu fenomena likuifaksi tanah yang meluas di wilayah Sigi dan berdampak besar pada sektor pertanian. Pohon-pohon kakao yang selama bertahun-tahun menghasilkan buah seketika  berhenti berproduksi. Sebagian tidak lagi berbunga. Sebagian berhenti tumbuh. Sebagian lainnya, mati di tempat. 

Bagi banyak petani kecil, bencana ini dengan cepat berubah menjadi krisis ekonomi. 

Close-up of a path covered with orange beans; a blurred person in blue stands in a yard.

Petani kakao seperti Femmi menghadapi tekanan yang berlipat ganda: harga global yang fluktuatif, tekanan pada tanaman akibat perubahan iklim, dan dampak berkepanjangan dari bencana alam menyisakan sedikit ruang ketika panen gagal. Foto: UNDP Indonesia

Situasi semakin sulit ketika harga kakao global turun secara signifikan selama masa pandemi pada 2019–2021. Pendapatan petani yang sebelumnya telah terdampak menjadi semakin berkurang, membuat banyak keluarga harus mencari jalan lain untuk bertahan hidup. Di berbagai wilayah, para petani mulai beralih ke tanaman jangka pendek seperti jagung dan kacang-kacangan. Pilihan tersebut bukan karena keinginan meninggalkan praktik berkelanjutan, tetapi  kebutuhan ekonomi yang mendesak.

Memilih untuk Bertahan

Bagi Femmi, masa sulit itu datang bersamaan dengan kehilangan besar dalam keluarganya. Sang ayah  meninggal dunia di tengah masa sulit, dan tak lama kemudian ibunya jatuh sakit. Untuk pertama kalinya, Femmi harus mengambil peran penuh dalam mengelola kebun lebih dari yang ia lakukan sebelumnya. Tetangganya  menyarankan Femmi  untuk melakukan hal yang banyak dilakukan petani lain: menebang pohon kakao yang tidak produktif dan menggantinya dengan tanaman yang bisa menghasilkan lebih cepat. 

Namun, Femmi memilih jalan yang berbeda. 

"Mereka  mungkin bisa dengan mudah mengganti hasil kebun karena tidak ada tanggungan lain, tapi hal itu tidak sama dengan saya," katanya. "Ada ibu  yang harus dipikirkan. Pohon kakaonya sudah tumbuh. Meski hasilnya tidak banyak, tetap lebih murah merawatnya daripada menebang semuanya dan mulai dari awal sendirian." 

Keputusan itu lahir dari kebutuhan, tetapi perlahan membawanya pada jalur yang lebih berkelanjutan—bukan hanya untuk penghidupannya, tetapi juga untuk lingkungan di sekitarnya.

Melihat Pohon dengan Cara yang Baru

Pilihan Femmi untuk mempertahankan kebun membuka kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan dan dukungan baru. Ia bergabung dalam Sekolah Lapang Kakao yang diselenggarakan di Desa Tuva oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Sulawesi Tengah bersama Universitas Tadulako. 

Program ini merupakan bagian dari Biodiversity Finance Initiative (BIOFIN), yang diimplementasikan oleh UNDP Indonesia bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) dan BAZNAS. Melalui pendekatan pembiayaan inovatif seperti Green Zakat Framework, program ini mendukung upaya konservasi berbasis masyarakat sekaligus memperkuat penghidupan yang berkelanjutan. 

Melalui Green Zakat Framework, zakat—praktik pemberian dalam Islam yang ditujukan untuk membantu masyarakat miskin dan kelompok rentan—diarahkan untuk mendukung masyarakat desa, seperti Desa Tuva, yang mana banyak keluarga bergantung langsung pada hutan dan lahan pertanian untuk hidup. Pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa ada keterkaitan antara  hilangnya keanekaragaman hayati dan kerentanan ekonomi masyarakat pedesaan. Dengan membantu petani memulihkan lahan yang sudah ada, bukan membuka lahan baru, ekosistem dapat lebih terlindungi sekaligus pendapatan masyarakat dapat diperkuat. Bagi Femmi, Sekolah Lapang Kakao mengubah cara ia melihat dan merawat kebunnya.

Sekolah Lapangan Petani Kakao memperkenalkan peserta pada praktik pertanian berkelanjutan — mulai dari teknik pencangkokan dan produksi pupuk organik hingga pemangkasan yang tepat — keterampilan yang sebagian besar petani skala kecil di Tuva belum pernah pelajari secara formal sebelumnya. Foto: UNDP Indonesia


 

“Sebagian besar pohon harus dipangkas bagian atasnya agar lebih cepat berbunga. Pohon yang sudah tua dan tidak produktif saya coba pulihkan satu per satu dengan bibit baru yang lebih produktif dan lebih cepat berbuah,” katanya. 

Alih-alih menebang pohon yang tidak produktif, Femmi belajar melakukan teknik pemulihan seperti sambung pucuk. Teknik ini memungkinkan varietas kakao yang lebih produktif tumbuh dari sistem akar pohon yang sudah ada. Setelah sambungan berhasil tumbuh, batang lama dapat dipotong sehingga akar tetap terjaga, sementara pohon kembali menghasilkan dengan kualitas yang lebih baik. Ia juga mulai menerapkan penggunaan bahan organik serta sistem polikultur dengan menanam tanaman lain seperti alpukat dan kelapa untuk memperkuat keberagaman sumber pendapatan sekaligus mendukung biodiversitas di kebunnya.

Panen yang Kembali Tumbuh

Perubahan pertama yang dirasakan Femmi terlihat dari pola panen. Dulu, panen sering tidak teratur dan buah kakao kerap dipetik ketika sudah terlalu matang. Kini, ia memanen kakao secara rutin setiap dua minggu. Perbedaan kualitas juga terlihat dari hasil penjualannya. Biji kakao yang dipanen tepat waktu dan memiliki kualitas lebih baik kini hanya mengalami potongan harga sekitar 3 persen, dibandingkan potongan 5–7 persen untuk hasil panen dengan kualitas lebih rendah. Produktivitas kebunnya meningkat sekitar 25–35 persen. 

Namun harga pasar tetap menjadi tantangan yang berada di luar kendali petani. Pada 2024, Femmi sempat menjual kakao dengan harga tertinggi sekitar Rp182.000 per kilogram. Belakangan, harga tersebut turun menjadi sekitar Rp50.000 per kilogram. Meski fluktuasi harga global tidak dapat dikendalikan, praktik budidaya yang lebih baik membantu petani mendapatkan nilai lebih besar dari setiap hasil panen.

Setelah dipanen, biji kakao dijemur secara hati-hati di bawah sinar matahari. Bagi petani kecil seperti Femmi, kualitas setiap biji kakao kering secara langsung menentukan seberapa banyak kontribusi terhadap pendapatan rumah tangga. Foto: UNDP Indonesia


 

Femmi mengikuti pelatihan bersama 19 perempuan lainnya—menunjukkan semakin pentingnya peran perempuan dalam mendorong pertanian berkelanjutan di tingkat komunitas. 

Program ini juga mendukung pemulihan di tingkat desa dengan menghasilkan lebih dari 15.000 bibit tanaman, di mana lebih dari 7.000 di antaranya telah ditanam kembali di Desa Tuva.  

Agama, Tanah, dan Masa Depan Bersama

Apa yang dipulihkan Femmi bukan hanya sebuah kebun kakao.Kisahnya menunjukkan bahwa menjaga alam dan mempertahankan penghidupan tidak harus menjadi dua hal yang bertentangan. Bahkan sebuah tradisi lama seperti berbagi melalui zakat dapat diarahkan untuk menjawab tantangan lingkungan masa kini. 

Melalui inisiatif seperti BIOFIN, UNDP menunjukkan bahwa perlindungan alam dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. 

Two people in blue shirts tend potted plants beside a blue wall.

Femmi dan sesama petani kakao merawat persemaian yang didirikan melalui Sekolah Lapangan, menghasilkan bibit yang akan didistribusikan kepada peserta lain sebagai bagian dari upaya rehabilitasi kakao Desa Tuva yang lebih luas. Foto: UNDP Indonesia

Bukan dengan meminta masyarakat meninggalkan sumber penghidupan mereka, tetapi dengan memberi mereka pengetahuan, dukungan, dan alat untuk menjadikannya lebih berkelanjutan.Ketika petani memiliki kemampuan untuk memulihkan lahan yang sudah mereka kelola, penghidupan dan keanekaragaman hayati dapat tumbuh lebih kuat bersama. 

Karena pembangunan manusia yang berkelanjutan sering kali dimulai dari tempat yang sederhana: dari seseorang seperti Femmi, yang memilih untuk tetap berdiri di tanah yang ia pertahankan.

***

Penulis: Anastasia Weningtias

Editor: Thomas Benmetan