Kopi Kahaya dan Pemuda yang Kembali Menjaga Desa dan Hutannya
17 April 2026
Marsan (Ketua Koperasi Mitra Mandiri Kahaya) mendampingi para pemuda di Desa Kahayya, berbagi pengetahuan praktis tentang perawatan tanaman kopi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan memperkuat penghidupan masyarakat.
Kabut pagi masih menggantung di perbukitan Desa Kahaya, Bulukumba. Udara dingin turun dari lereng gunung, menyelimuti barisan pohon kopi yang tumbuh di ketinggian hampir seribu meter di atas permukaan laut. Di antara tanaman-tanaman itu, Muhammad Darwish sudah memulai harinya. Keranjang kecil tergantung di pinggangnya, sementara tangannya sibuk memetik buah kopi merah dari ranting-ranting yang rimbun.
Darwish pernah meninggalkan tempat ini. Beberapa tahun lalu ia merantau ke kota untuk bekerja dan melanjutkan kuliah. Seperti banyak anak muda desa lainnya, ia sempat berpikir masa depan mungkin ada di tempat lain. Kota terasa lebih pasti, lebih banyak pekerjaan dan peluang. Namun setelah beberapa waktu, ia justru merasa sesuatu yang penting tertinggal di desa.
Ia akhirnya pulang.
“Kalau harapannya, anak muda kembali bertani,” katanya. “Perkebunan kopi ini untuk jangka panjang, untuk masa tua.”
Di Kahaya, cerita seperti Darwish kini semakin sering terdengar. Tetapi dulu, keadaan di desa ini sangat berbeda.
Ketika Kopi Tidak Dianggap Berharga
Kopi sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kahaya. Tanaman ini tumbuh hampir di setiap kebun keluarga di desa pegunungan itu. Namun selama bertahun-tahun, kopi tidak benar-benar menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan. Harga sering jatuh, akses pasar terbatas, dan cara panen serta pengolahan masih dilakukan secara sederhana. Marsan, Ketua Koperasi Mitra Mandiri Kahaya (KMMK), masih ingat bagaimana keadaan itu dulu.
“Dulu kopi dijual murah sekali. Bahkan kadang tidak laku,” katanya.
Petani biasanya memanen semua buah sekaligus tanpa memilah mana yang benar-benar matang. Setelah itu kopi dijemur di tanah atau halaman rumah tanpa standar pengolahan yang jelas. Akibatnya kualitas kopi tidak konsisten dan sulit bersaing di pasar. Bagi banyak orang di luar daerah, kopi Kahaya hanyalah kopi biasa.
Situasi ini membuat banyak anak muda meninggalkan desa untuk mencari pekerjaan di kota. Bertani kopi terasa tidak menjanjikan. Perubahan mulai terlihat sekitar satu dekade lalu ketika sejumlah komunitas mulai memperhatikan kembali potensi kopi Kahaya dan mencoba memperbaiki cara pengolahannya.
Ketika Kopi Kahaya Menemukan Nilainya
Dalam proses tersebut, para petani mulai menyadari bahwa kopi Kahaya sebenarnya memiliki karakter rasa yang khas. Potensi ini mulai terlihat ketika praktik budidaya dan pengolahan kopi perlahan diperbaiki.
“Dulu rasa kopi Kahaya itu earthy yang tidak mengenakkan, bahkan terasa seperti tanah,” kata Awal Irsyad, salah satu inisiator pengembangan kopi di desa tersebut. “Sekarang justru floral dan fruity mulai muncul.”
Para petani kemudian membentuk koperasi sebagai wadah bersama untuk mengorganisir produksi dan belajar meningkatkan kualitas kopi. Dalam proses ini, berbagai pihak turut memperkuat upaya yang sudah berjalan, termasuk melalui Global Environmental Facility Small Grants Programme (GEF SGP) yang dilaksanakan oleh UNDP bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Melalui pendampingan tersebut, petani mulai mengenal praktik budidaya yang lebih baik, agroforestri, serta teknik pengolahan pascapanen yang sebelumnya jarang diperhatikan.
Warga Desa Kahayya bertukar pengetahuan tentang budidaya kopi, termasuk perawatan tanaman dan penanganan pascapanen untuk meningkatkan kualitas. (Kredit foto: UNDP Indonesia)
Di saat yang sama, cara petani melihat pasar juga mulai berubah. Sebelumnya, kopi dijual ke tengkulak lokal dengan akses yang terbatas dan tanpa banyak pemahaman tentang standar kualitas. Dalam proses penguatan yang berlangsung, petani mulai dipertemukan yang dihimpun oleh Koperasi Mitra Mandiri Kahaya (KMMK) dengan berbagai pihak dari komunitas kopi, pelaku industri hingga calon pembeli di skala nasional dan juga internasional seperti ke negara Arab Saudi, Tiongkok, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, Dubai, dan Rusia.
Dari pertemuan-pertemuan itu, terasa juga di kebun. Petani mulai menerapkan sistem petik merah, memperbaiki proses pengolahan, dan lebih memperhatikan kualitas biji kopi yang dihasilkan. Hasilnya cukup nyata: kualitas kopi Kahaya meningkat secara signifikan, bahkan beberapa di antaranya mencapai cupping score di atas 85, kategori specialty coffee.
<em>Darwish bersama petani Desa Kahayya menyiapkan kopi untuk pasar, mulai dari proses penimbangan hingga pengemasan sebelum didistribusikan. (Kredit </em>foto<em>: UNDP Indonesia)</em>
Bagi Marsan, perubahan tersebut bukan hanya soal teknik, tetapi juga cara pandang.
“Sekarang petani sudah berbeda,” katanya. “Mereka mulai memahami kualitas dan berani menentukan harga.”
Pemuda Kembali, Hutan Tetap Terjaga
Perubahan dalam industri kopi Kahaya juga membawa dampak lain yang tidak kalah penting: anak muda mulai kembali ke desa. Darwish adalah salah satu di antaranya. Ia kembali ke Kahaya dengan pengalaman baru dari kota, tetapi dengan keputusan yang sederhana yaitu tetap bertani kopi.
“Impian saya sebagai pemuda Kahaya adalah meningkatkan produktivitas kopi agar bisa diekspor lebih banyak,” katanya.
Namun di Kahaya, kopi tidak hanya soal ekonomi. Tanaman ini juga memiliki hubungan erat dengan lingkungan. Sebagian besar kebun kopi berada di kawasan pegunungan yang menjadi hulu beberapa aliran sungai di Bulukumba. Di wilayah seperti ini, kopi biasanya ditanam di bawah naungan pohon-pohon besar sebagai bagian dari sistem agroforestri.
Artinya, menanam kopi tidak berarti membuka hutan secara besar-besaran. Sebaliknya, petani justru mempertahankan pohon pelindung dan vegetasi alami agar tanaman kopi dapat tumbuh dengan baik. Sistem ini membantu menjaga tutupan lahan, melindungi tanah dari erosi, serta menjaga ketersediaan air di daerah hulu.
“Dengan membeli kopi Kahaya, konsumen sebenarnya ikut membantu konservasi,” katanya. “Karena ketika kopi ditanam, pohon juga ditanam.”
Biji kopi yang sedang ditangani dalam proses pengeringan di Desa Kahayya, Bulukumba.(Kredit foto: UNDP Indonesia)
Ketika kopi memiliki nilai ekonomi yang baik, petani memiliki alasan kuat untuk mempertahankan kebun mereka dan secara tidak langsung menjaga hutan di sekitarnya.
Perjalanan kopi Kahaya masih panjang. Namun di desa kecil di pegunungan Bulukumba ini, kopi tidak lagi sekadar tanaman yang tumbuh di kebun. Ia telah menjadi cerita tentang perubahan tentang pemuda yang pulang, petani yang belajar cara baru, dan tentang bagaimana sebuah komunitas menjaga alam sambil membangun masa depannya sendiri
***
Penulis: Bambang Nurjaman
Editor: Nabilla Rahmani